Desa salah satu pemukiman manusia dengan populasi antara beberapa ratus hingga ribuan jiwa yang berlokasi di daerah pedesaan. Desa adalah pembagian wilayah administratif yang berada di bawah kecamatan dan dipimpin oleh Kepala Desa. Desa Langkoroni merupakan salah satu Desa terbesar di Kecamatan Maligano Kabupaten Muna Sulawesi Tenggara. Desa Langkoroni terdiri dari 4 dusun yang terdiri atas Dusun Lebo, Dempa, Kawu-Kawu dan Wasalabose. Adapun mata pencaharian masyarakat Desa Langkoroni cukup beragam, ada yang menjadi pekebun/petani, nelayan, pedagang, bahkan perantau di daerah lain ataupun menjadi TKI di luar negeri karena kurangnya ketersediaan lapangan pekerjaan di Desa tersebut.
Potensi komoditi pertanian masyarakat Desa Langkoroni budidayakan berupa kakao, pisang, jagung dan komoditi lainnya. Namun, pembudidayaan komoditi pertanian tersebut belum bisa mensejahterakan masyarakat Desa Langkoroni. Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan masyarakat untuk mengolah hasil perkebunan mereka agar memiliki nilai jual yang tinggi. Desa Langkoroni merupakan salah satu desa penyumbang buah pisang terbesar bagi Kabupaten Muna. Badan Pusat Statistik (BPS) (2018), mengungkapkan produksi pisang tahun 2015 Kabupaten Muna sebesar 70.066 Kwintal. Masyarakat Desa Langkoroni memanfaatkan buah pisang sebagai pembuatan keripik pisang dan kadang langsung dijual di pasar tradisional Kecamatan Maligano untuk menambah pendapatan mereka. Namun, adanya tanaman pisang tersebut belum bisa mensejahterahkan masyarakat Desa Langkoroni dikarenakan murahnya harga pisang di Desa tersebut.
Desa Langkoroni juga merupakan salah satu Desa penerima Alokasi Dana Desa (ADD). Program Alokasi Dana Desa (ADD) merupakan salah satu usaha Presiden Joko Widodo dalam melakukan pemerataan di seluruh wilayah Indonesia
diwujudkan melalui dana desa yang dialokasikan khusus dalam APBN. Dana desa pertama kali digulirkan pada tahun 2015 dengan jumlah anggaran sebesar Rp.20,76 triliun (Simorangkir, 2017). Salah satu tujuan Alokasi Dana Desa (ADD) adalah meningkatkan pendapatan desa melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa). Oleh karena itu, untuk lebih mensejahterkan masyarakat desa Lakongkoroni perlu adanya ekonomi kreatif sehingga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat Desa Langkoroni. Ekonomi kreatif merupakan sebuah konsep di erah ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan pengetahun dari sumber daya manusia sebagai faktor produksi yang utama. Adapun ide atau inovasi yang ditawarkan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat Desa Langkoroni yaitu pengolahan bonggol pisang sebagai tepung untuk pembutan mie instan.
Pisang yang memiliki bahasa latin Musa paradisiacal merupakan salah satu buah yang sering dikonsumsi masyarakat karena memiliki rasa yang manis dan bergizi. Pisang juga merupakan salah satu tanaman sekali berbuah pada setiap batang tanaman pisang. Pengolahan pisang masih menyisahkan kulit, batang, daun serta bonggol sebagai limbah yang masih kurang dimanfaatkan masyarakat. Padahal limbah-limbah tersebut bisa dimanfaatkan sebagai produk pangan yang kayak manfaat bagi kesehatan tubuh. Berdasarkan Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian (2016), mengungkapkan Pada tahun 1980 total produksi pisang di Indonesia sebesar 1,9 juta ton dan pada tahun 2015 naik secara signifikan mencapai 7,3 juta ton. Namun, peningkatan produksi buah pisang tersebut juga meningkatan bonggol pisang yang kurang dimanfaatkan.
Bonggol pisang merupakan bagian tanaman pisang yang kaya manfaat bagi kesehat tubuh. Pemanfaatan bonggol pisang masih sangat terbatas, Padahal bonggol pisang bisa diolah berbagai produk bahan pangan seperti tepung. Pemanfaatan bonggol pisang sebagai tepung didasarkan bahwa bonggol pisang merupakan komponen polisakarida yang tentunya bisa diolah menjadi sumber tepung baru. Bonggol pisang kaya akan serat pangan. Menurut Astawan (2004), serat kasar terbukti mampu mencegah berbagai macam penyakit, diantaranya penyakit gigi, diabetes millitus, tekanan darah tinggi, obesitas, serat meningkatkan kesehatan mikroflora usus sehingga dapat memperlancar pencernaan. Rudito et al (2010), menunjukkan karakteristik kimia pati bonggol pisang yaitu kadar air sebesar 6,69%, kadar abu 0,11%, dan kadar HCN 2,6 mg/kg. Bonggol pisang merupakan bagian bawah batang pisang yang menggembul berbentuk umbi. Menurut Rosdiana (2009), bonggol pisang memiliki komposisi yang terdiri dari 76% pati dan 20% air. Pati ini menyerupai pati tepung sagu dan tepung tapioka. Kandungan bonggol pisang yang cukup tinggi memungkinkan untuk dijadikan sebagai alternatif bahan pangan yang cukup potensial (Saragih, 2013). Sehingga, pembuatan tepung bonggol pisang bisa dimanfaatkan sebagai pembutan mie instan.
Mie instan merupakan produk pangan yang dioleh dari tepung, baik dari tepung terigu, tepung sagu, maupun tepung lainnya. Mie instan salah satu komoditas makanan yang sangat digemari masyarkat. Badan Pusat Statistika (BPS) dalam Ruslan (2015), mengungkapkan kontribusi mie instan di pedesaan mencapai 2,41%, sementara di perkotaan mencapai 2,62%. World Instand Noodles Association (WINA) juga memberi konfirmasi bahwa konsumsi mie instan masyarakat Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2013, konsumsi mie instan masyarakat Indonesia sudah mencapai 14,9 miliar bungkus, atau mengalami peningkatan sebesar 1 miliar bukus bila dibandingkan dengan konsumsi pada tahun 2009. Hal ini disebabkan harganya yang murah dan cepat saji, sehingga sudah menjadi makanan sehari-hari bagi masyarakat terutama dikalangan mahasiswa. Mie instan juga merupakan salah satu produk pangan unggulan yang berikan kepada korban bencana alam. Adapun pembutan mie instan dimulai dari pencampuran bahan, pengadukan, pencetakan, pengukusan, pemotongan, penggorengan, pendinginan, dan pengemasan.
Oleh karena itu, Jalur yang akan ditempuh agar ide ini dapat direalisasikan di Desa Langkoroni dengan mendiskusikan langsung kepada pemerintah setempat yaitu Kepala Desa Langkoroni, toko-toko masyarakat maupun camat Maligano. Tujuan utama perealisasian ide ini dapat diterapkan oleh BUMDesa sehingga dapat meningkatan pendapatan Desa Langkoroni. Kemudian secara otomatis yang menjadi sumber dana untuk pengadaan alat dan bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan mie instan dari tepung bonggol pisang dari Alokasi Dana Desa (ADD). Manfaat yang didapatkan bagi masyarakat Desa Langkoroni diantaranya dapat
mempelajari pembuatan tepung bonggol pisang sebagai pembuatan mie instan. Kemudian keunggulan dari pembuatan mie instan tepung bonggol pisang ini dapat mengurangi limbah pisang terutama bonggolnya, dapat meningkatkan nilai ekonomi pisang dan menyediahkan lapangan pekerjaan bagi masyarakat pengangguran, membuka peluang usaha bagi masyarakat Desa Langkoroni serta meningkatkan perekonomian masyarakat desa tersebut. Dan pada akhirnya dapat menjadi salah satu ujung tombak perekonomian nasional maupun internasional serta dapat mewujudkan ketahanan pangan 2045.
Jadi, pengolahan bonggol pisang sebagai tepung pembutan mie instan merupakan inovasi yang tepat untuk direalisakan di Desa Langkoroni karena dapat memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat berupa peluang usaha atau kreativitas, meningkatkan perekonomian masyarakat, mengurangi limbah bonggol pisang, meningkatkan nilai ekonomi pisang dan menyediahkan lapangan pekerjaan bagi masyarakat pengangguran. Sehingga pada akhirnya masyarakat Desa Langkoroni dapat sejahtera.
Potensi komoditi pertanian masyarakat Desa Langkoroni budidayakan berupa kakao, pisang, jagung dan komoditi lainnya. Namun, pembudidayaan komoditi pertanian tersebut belum bisa mensejahterakan masyarakat Desa Langkoroni. Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan masyarakat untuk mengolah hasil perkebunan mereka agar memiliki nilai jual yang tinggi. Desa Langkoroni merupakan salah satu desa penyumbang buah pisang terbesar bagi Kabupaten Muna. Badan Pusat Statistik (BPS) (2018), mengungkapkan produksi pisang tahun 2015 Kabupaten Muna sebesar 70.066 Kwintal. Masyarakat Desa Langkoroni memanfaatkan buah pisang sebagai pembuatan keripik pisang dan kadang langsung dijual di pasar tradisional Kecamatan Maligano untuk menambah pendapatan mereka. Namun, adanya tanaman pisang tersebut belum bisa mensejahterahkan masyarakat Desa Langkoroni dikarenakan murahnya harga pisang di Desa tersebut.
Desa Langkoroni juga merupakan salah satu Desa penerima Alokasi Dana Desa (ADD). Program Alokasi Dana Desa (ADD) merupakan salah satu usaha Presiden Joko Widodo dalam melakukan pemerataan di seluruh wilayah Indonesia
diwujudkan melalui dana desa yang dialokasikan khusus dalam APBN. Dana desa pertama kali digulirkan pada tahun 2015 dengan jumlah anggaran sebesar Rp.20,76 triliun (Simorangkir, 2017). Salah satu tujuan Alokasi Dana Desa (ADD) adalah meningkatkan pendapatan desa melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa). Oleh karena itu, untuk lebih mensejahterkan masyarakat desa Lakongkoroni perlu adanya ekonomi kreatif sehingga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat Desa Langkoroni. Ekonomi kreatif merupakan sebuah konsep di erah ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan pengetahun dari sumber daya manusia sebagai faktor produksi yang utama. Adapun ide atau inovasi yang ditawarkan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat Desa Langkoroni yaitu pengolahan bonggol pisang sebagai tepung untuk pembutan mie instan.
Pisang yang memiliki bahasa latin Musa paradisiacal merupakan salah satu buah yang sering dikonsumsi masyarakat karena memiliki rasa yang manis dan bergizi. Pisang juga merupakan salah satu tanaman sekali berbuah pada setiap batang tanaman pisang. Pengolahan pisang masih menyisahkan kulit, batang, daun serta bonggol sebagai limbah yang masih kurang dimanfaatkan masyarakat. Padahal limbah-limbah tersebut bisa dimanfaatkan sebagai produk pangan yang kayak manfaat bagi kesehatan tubuh. Berdasarkan Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian (2016), mengungkapkan Pada tahun 1980 total produksi pisang di Indonesia sebesar 1,9 juta ton dan pada tahun 2015 naik secara signifikan mencapai 7,3 juta ton. Namun, peningkatan produksi buah pisang tersebut juga meningkatan bonggol pisang yang kurang dimanfaatkan.
Bonggol pisang merupakan bagian tanaman pisang yang kaya manfaat bagi kesehat tubuh. Pemanfaatan bonggol pisang masih sangat terbatas, Padahal bonggol pisang bisa diolah berbagai produk bahan pangan seperti tepung. Pemanfaatan bonggol pisang sebagai tepung didasarkan bahwa bonggol pisang merupakan komponen polisakarida yang tentunya bisa diolah menjadi sumber tepung baru. Bonggol pisang kaya akan serat pangan. Menurut Astawan (2004), serat kasar terbukti mampu mencegah berbagai macam penyakit, diantaranya penyakit gigi, diabetes millitus, tekanan darah tinggi, obesitas, serat meningkatkan kesehatan mikroflora usus sehingga dapat memperlancar pencernaan. Rudito et al (2010), menunjukkan karakteristik kimia pati bonggol pisang yaitu kadar air sebesar 6,69%, kadar abu 0,11%, dan kadar HCN 2,6 mg/kg. Bonggol pisang merupakan bagian bawah batang pisang yang menggembul berbentuk umbi. Menurut Rosdiana (2009), bonggol pisang memiliki komposisi yang terdiri dari 76% pati dan 20% air. Pati ini menyerupai pati tepung sagu dan tepung tapioka. Kandungan bonggol pisang yang cukup tinggi memungkinkan untuk dijadikan sebagai alternatif bahan pangan yang cukup potensial (Saragih, 2013). Sehingga, pembuatan tepung bonggol pisang bisa dimanfaatkan sebagai pembutan mie instan.
Mie instan merupakan produk pangan yang dioleh dari tepung, baik dari tepung terigu, tepung sagu, maupun tepung lainnya. Mie instan salah satu komoditas makanan yang sangat digemari masyarkat. Badan Pusat Statistika (BPS) dalam Ruslan (2015), mengungkapkan kontribusi mie instan di pedesaan mencapai 2,41%, sementara di perkotaan mencapai 2,62%. World Instand Noodles Association (WINA) juga memberi konfirmasi bahwa konsumsi mie instan masyarakat Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2013, konsumsi mie instan masyarakat Indonesia sudah mencapai 14,9 miliar bungkus, atau mengalami peningkatan sebesar 1 miliar bukus bila dibandingkan dengan konsumsi pada tahun 2009. Hal ini disebabkan harganya yang murah dan cepat saji, sehingga sudah menjadi makanan sehari-hari bagi masyarakat terutama dikalangan mahasiswa. Mie instan juga merupakan salah satu produk pangan unggulan yang berikan kepada korban bencana alam. Adapun pembutan mie instan dimulai dari pencampuran bahan, pengadukan, pencetakan, pengukusan, pemotongan, penggorengan, pendinginan, dan pengemasan.
Oleh karena itu, Jalur yang akan ditempuh agar ide ini dapat direalisasikan di Desa Langkoroni dengan mendiskusikan langsung kepada pemerintah setempat yaitu Kepala Desa Langkoroni, toko-toko masyarakat maupun camat Maligano. Tujuan utama perealisasian ide ini dapat diterapkan oleh BUMDesa sehingga dapat meningkatan pendapatan Desa Langkoroni. Kemudian secara otomatis yang menjadi sumber dana untuk pengadaan alat dan bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan mie instan dari tepung bonggol pisang dari Alokasi Dana Desa (ADD). Manfaat yang didapatkan bagi masyarakat Desa Langkoroni diantaranya dapat
mempelajari pembuatan tepung bonggol pisang sebagai pembuatan mie instan. Kemudian keunggulan dari pembuatan mie instan tepung bonggol pisang ini dapat mengurangi limbah pisang terutama bonggolnya, dapat meningkatkan nilai ekonomi pisang dan menyediahkan lapangan pekerjaan bagi masyarakat pengangguran, membuka peluang usaha bagi masyarakat Desa Langkoroni serta meningkatkan perekonomian masyarakat desa tersebut. Dan pada akhirnya dapat menjadi salah satu ujung tombak perekonomian nasional maupun internasional serta dapat mewujudkan ketahanan pangan 2045.
Jadi, pengolahan bonggol pisang sebagai tepung pembutan mie instan merupakan inovasi yang tepat untuk direalisakan di Desa Langkoroni karena dapat memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat berupa peluang usaha atau kreativitas, meningkatkan perekonomian masyarakat, mengurangi limbah bonggol pisang, meningkatkan nilai ekonomi pisang dan menyediahkan lapangan pekerjaan bagi masyarakat pengangguran. Sehingga pada akhirnya masyarakat Desa Langkoroni dapat sejahtera.
DAFTAR PUSTAKA
Ruslan K. 2015. Konsumsi Mie Instan Masyarakat Indonesia Mencengangkan. https://indonesiana.tempo.co/read/29922/2015/01/22/Konsumsi-Mie-Instan-Masyarakat-Indonesia-Mencengangkan [22 Januari 2015].
Saragih B. 2013. Analisis Mutu Tepung Bonggol Pisang dari Berbagai Varietas dan Umur Panen yang Berbeda. Jurnal TIBBS Teknologi Industri Boga dan Busana, 9 (1): 22-29.
Simorangkir E. 2017. Pemerintah Kucurkan Dana Desa Sejak 2015, Apa Saja Hasilnya?. https://m.detik.com/finance/berita-ekonomi-bisnis/d-3606172/pemerintah-kucurkan-dana-desa.sejak-2015-apa-saja-hasilnya [19 Agustus 2017].
[BPS] Badan Pusat Statistika. 2018. Produksi Buah-Buahan Menurut Kabupaten/Kota dan Jenis Sayuran di Provinsi Sulawesi Tenggara (Kwintal) 2015. Kendari: Badan Pusat Statistik, Sulawesi Tenggara.
[PDSIP] Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian. 2016. Outlook Komoditas Pisang. Jakarta: Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Kementerian Pertanian.