Selasa, 20 November 2018

MIBOP (Mie Bonggol Pisang), Usaha Meningkatkan Perekonomian Desa Langkoroni

Desa salah satu pemukiman manusia dengan populasi antara beberapa ratus hingga ribuan jiwa yang berlokasi di daerah pedesaan. Desa adalah pembagian wilayah administratif yang berada di bawah kecamatan dan dipimpin oleh Kepala Desa. Desa Langkoroni merupakan salah satu Desa terbesar di Kecamatan Maligano Kabupaten Muna Sulawesi Tenggara. Desa Langkoroni terdiri dari 4 dusun yang terdiri atas Dusun Lebo, Dempa, Kawu-Kawu dan Wasalabose. Adapun mata pencaharian masyarakat Desa Langkoroni cukup beragam, ada yang menjadi pekebun/petani, nelayan, pedagang, bahkan perantau di daerah lain ataupun menjadi TKI di luar negeri karena kurangnya ketersediaan lapangan pekerjaan di Desa tersebut.
Potensi komoditi pertanian masyarakat Desa Langkoroni budidayakan berupa kakao, pisang, jagung dan komoditi lainnya. Namun, pembudidayaan komoditi pertanian tersebut belum bisa mensejahterakan masyarakat Desa Langkoroni. Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan masyarakat untuk mengolah hasil perkebunan mereka agar memiliki nilai jual yang tinggi. Desa Langkoroni merupakan salah satu desa penyumbang buah pisang terbesar bagi Kabupaten Muna. Badan Pusat Statistik (BPS) (2018), mengungkapkan produksi pisang tahun 2015 Kabupaten Muna sebesar 70.066 Kwintal. Masyarakat Desa Langkoroni memanfaatkan buah pisang sebagai pembuatan keripik pisang dan kadang langsung dijual di pasar tradisional Kecamatan Maligano untuk menambah pendapatan mereka. Namun, adanya tanaman pisang tersebut belum bisa mensejahterahkan masyarakat Desa Langkoroni dikarenakan murahnya harga pisang di Desa tersebut.
Desa Langkoroni juga merupakan salah satu Desa penerima Alokasi Dana Desa (ADD). Program Alokasi Dana Desa (ADD) merupakan salah satu usaha Presiden Joko Widodo dalam melakukan pemerataan di seluruh wilayah Indonesia
diwujudkan melalui dana desa yang dialokasikan khusus dalam APBN. Dana desa pertama kali digulirkan pada tahun 2015 dengan jumlah anggaran sebesar Rp.20,76 triliun (Simorangkir, 2017). Salah satu tujuan Alokasi Dana Desa (ADD) adalah meningkatkan pendapatan desa melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa). Oleh karena itu, untuk lebih mensejahterkan masyarakat desa Lakongkoroni perlu adanya ekonomi kreatif sehingga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat Desa Langkoroni. Ekonomi kreatif merupakan sebuah konsep di erah ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan pengetahun dari sumber daya manusia sebagai faktor produksi yang utama. Adapun ide atau inovasi yang ditawarkan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat Desa Langkoroni yaitu pengolahan bonggol pisang sebagai tepung untuk pembutan mie instan.
Pisang yang memiliki bahasa latin Musa paradisiacal merupakan salah satu buah yang sering dikonsumsi masyarakat karena memiliki rasa yang manis dan bergizi. Pisang juga merupakan salah satu tanaman sekali berbuah pada setiap batang tanaman pisang. Pengolahan pisang masih menyisahkan kulit, batang, daun serta bonggol sebagai limbah yang masih kurang dimanfaatkan masyarakat. Padahal limbah-limbah tersebut bisa dimanfaatkan sebagai produk pangan yang kayak manfaat bagi kesehatan tubuh. Berdasarkan Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian (2016), mengungkapkan Pada tahun 1980 total produksi pisang di Indonesia sebesar 1,9 juta ton dan pada tahun 2015 naik secara signifikan mencapai 7,3 juta ton. Namun, peningkatan produksi buah pisang tersebut juga meningkatan bonggol pisang yang kurang dimanfaatkan.
Bonggol pisang merupakan bagian tanaman pisang yang kaya manfaat bagi kesehat tubuh. Pemanfaatan bonggol pisang masih sangat terbatas, Padahal bonggol pisang bisa diolah berbagai produk bahan pangan seperti tepung. Pemanfaatan bonggol pisang sebagai tepung didasarkan bahwa bonggol pisang merupakan komponen polisakarida yang tentunya bisa diolah menjadi sumber tepung baru. Bonggol pisang kaya akan serat pangan. Menurut Astawan (2004), serat kasar terbukti mampu mencegah berbagai macam penyakit, diantaranya penyakit gigi, diabetes millitus, tekanan darah tinggi, obesitas, serat meningkatkan kesehatan mikroflora usus sehingga dapat memperlancar pencernaan. Rudito et al (2010), menunjukkan karakteristik kimia pati bonggol pisang yaitu kadar air sebesar 6,69%, kadar abu 0,11%, dan kadar HCN 2,6 mg/kg. Bonggol pisang merupakan bagian bawah batang pisang yang menggembul berbentuk umbi. Menurut Rosdiana (2009), bonggol pisang memiliki komposisi yang terdiri dari 76% pati dan 20% air. Pati ini menyerupai pati tepung sagu dan tepung tapioka. Kandungan bonggol pisang yang cukup tinggi memungkinkan untuk dijadikan sebagai alternatif bahan pangan yang cukup potensial (Saragih, 2013). Sehingga, pembuatan tepung bonggol pisang bisa dimanfaatkan sebagai pembutan mie instan.
Mie instan merupakan produk pangan yang dioleh dari tepung, baik dari tepung terigu, tepung sagu, maupun tepung lainnya. Mie instan salah satu komoditas makanan yang sangat digemari masyarkat. Badan Pusat Statistika (BPS) dalam Ruslan (2015), mengungkapkan kontribusi mie instan di pedesaan mencapai 2,41%, sementara di perkotaan mencapai 2,62%. World Instand Noodles Association (WINA) juga memberi konfirmasi bahwa konsumsi mie instan masyarakat Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2013, konsumsi mie instan masyarakat Indonesia sudah mencapai 14,9 miliar bungkus, atau mengalami peningkatan sebesar 1 miliar bukus bila dibandingkan dengan konsumsi pada tahun 2009. Hal ini disebabkan harganya yang murah dan cepat saji, sehingga sudah menjadi makanan sehari-hari bagi masyarakat terutama dikalangan mahasiswa. Mie instan juga merupakan salah satu produk pangan unggulan yang berikan kepada korban bencana alam. Adapun pembutan mie instan dimulai dari pencampuran bahan, pengadukan, pencetakan, pengukusan, pemotongan, penggorengan, pendinginan, dan pengemasan.
Oleh karena itu, Jalur yang akan ditempuh agar ide ini dapat direalisasikan di Desa Langkoroni dengan mendiskusikan langsung kepada pemerintah setempat yaitu Kepala Desa Langkoroni, toko-toko masyarakat maupun camat Maligano. Tujuan utama perealisasian ide ini dapat diterapkan oleh BUMDesa sehingga dapat meningkatan pendapatan Desa Langkoroni. Kemudian secara otomatis yang menjadi sumber dana untuk pengadaan alat dan bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan mie instan dari tepung bonggol pisang dari Alokasi Dana Desa (ADD). Manfaat yang didapatkan bagi masyarakat Desa Langkoroni diantaranya dapat
mempelajari pembuatan tepung bonggol pisang sebagai pembuatan mie instan. Kemudian keunggulan dari pembuatan mie instan tepung bonggol pisang ini dapat mengurangi limbah pisang terutama bonggolnya, dapat meningkatkan nilai ekonomi pisang dan menyediahkan lapangan pekerjaan bagi masyarakat pengangguran, membuka peluang usaha bagi masyarakat Desa Langkoroni serta meningkatkan perekonomian masyarakat desa tersebut. Dan pada akhirnya dapat menjadi salah satu ujung tombak perekonomian nasional maupun internasional serta dapat mewujudkan ketahanan pangan 2045.
Jadi, pengolahan bonggol pisang sebagai tepung pembutan mie instan merupakan inovasi yang tepat untuk direalisakan di Desa Langkoroni karena dapat memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat berupa peluang usaha atau kreativitas, meningkatkan perekonomian masyarakat, mengurangi limbah bonggol pisang, meningkatkan nilai ekonomi pisang dan menyediahkan lapangan pekerjaan bagi masyarakat pengangguran. Sehingga pada akhirnya masyarakat Desa Langkoroni dapat sejahtera.

DAFTAR PUSTAKA
Ruslan K. 2015. Konsumsi Mie Instan Masyarakat Indonesia Mencengangkan. https://indonesiana.tempo.co/read/29922/2015/01/22/Konsumsi-Mie-Instan-Masyarakat-Indonesia-Mencengangkan [22 Januari 2015].
Saragih B. 2013. Analisis Mutu Tepung Bonggol Pisang dari Berbagai Varietas dan Umur Panen yang Berbeda. Jurnal TIBBS Teknologi Industri Boga dan Busana, 9 (1): 22-29.
Simorangkir E. 2017. Pemerintah Kucurkan Dana Desa Sejak 2015, Apa Saja Hasilnya?. https://m.detik.com/finance/berita-ekonomi-bisnis/d-3606172/pemerintah-kucurkan-dana-desa.sejak-2015-apa-saja-hasilnya [19 Agustus 2017].
[BPS] Badan Pusat Statistika. 2018. Produksi Buah-Buahan Menurut Kabupaten/Kota dan Jenis Sayuran di Provinsi Sulawesi Tenggara (Kwintal) 2015. Kendari: Badan Pusat Statistik, Sulawesi Tenggara.
[PDSIP] Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian. 2016. Outlook Komoditas Pisang. Jakarta: Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Kementerian Pertanian.

Pembentukkan KP2 Kampung Jolosutro Kecamatan Wates

Ekonomi salah satu ilmu yang mempelajari tentang kehidupana atau aktivitas manusia dalam pemenuhan kebutuahan berupa pangan, sandan dan kebutuhan lainya dalam memanfaatkan sumber daya alam. Menurut Amwal seorang ahli ekonomi mengungkapkan bahwa ekonomi ialah suatu cabang ilmu yang mempelajari tentang bagaimana menentukan keputusan yang efektif guna mengelola semua sumber daya yang tersedia dalam rangka untuk melakukan pemenuhan kebutuhan pada individu ataupun masyarakat. Salah satu cara yang dilakukan dalam pemenuhan kebutuahan seperti pengolahan sumber daya alam berupa hasil pertanian semisal pengolahan buah pisang menjadi keripik.
Kampung Jolosutro atau Dusun Ringinsari merupakan salah satu dusun yang terletak di Desa Ringinrejo di wilayah Kecamatan Water Kabupaten Blitar. Kampung Jolosutro merupakan kampung yang sungguh membutuhkan perhatian dari berbagai kalangan terutama pemerintah. Karena kampung ini sungguh tertinggal dari pendidikan, kesehatan maupun ekonomi. Pendidikan di kampung Jolosutro berada ditingkat rendah, terlihat dari rata-rata penduduk desawa usia 25-35 tahun pendidikan terakhirnya sekolah dasar. Hal ini juga terjadi pada anak-anak Jolosutro sekarang yang hanya mampu menyelesaikan sekolah di jenjang pendidikan sekolah dasar dan segelintir yang melanjutkan ke jenjang sekolah menengah pertama. Terbatasnya sarana dan prasarana yang ada juga masalah ekonomi, dimana penduduk Jolosutro yang tidak punya pekerjaan tetap dan mengakibatkan tidak adanya penghasilan yang pasti serta mindset warga lokal menjadi penghambat dalam pengembangan pendidikan masyarakat Jolosutro. Adapun mata pencaharian masyarakat kampung Jolosutro cukup beragam mulai dari petani, nelayan, pedagang maupun perantau.
Potensi pertanian di kampung Jolosutro yang masyarakat budidayakan berupa pisang, jagung dan pepaya. Pisang di kampung Jolosutro salah satu tanaman yang tumbuh subur. Pisang yang banyak ditanam masyarakat kampung Jolosutro adalah jenis pisang candi, namun ada juga jenis pisang lainnya seperti pisang susu, pisang ambon maupun pisang kepok. Adanya potensi pertanian yang dibudidayakan masyarakat kampung Jolosutro belum bisa mensejahterakan ataupun meneningkatkan perekonomian masyarakat di kampung tersebut. Hal ini dipengaruhi karena keterbatasan pengetahuan masyarakat dalam mengelolah hasil perkebunan mereka untuk memiliki nilai ekonomi tinggi, sehingga masyarakat kampung Jolosutro pada saat panen kadang langsung di jual kepada tengkulak. Walaupun sebenarnya sudah ada pelatihan pengolahan pisang menjadi keripik untuk memiliki nilai jual tinggi, namun hal ini yang menjadi kendala bagi masyarakat kampung Jolosutro sulitnya distribusi. Sehingga pada akhirnya banyak masyarakat berpikiran untuk menjual langsung hasil perkebunan mereka pada tengkulak.
Pisang merupakan salah satu buah yang banyak digemari oleh masyarakat karena memiliki rasa yang enak, lembut, manis dan bergizi. Pisang juga merupakan tanaman yang sekali berbuah pada setiap batang buah pisang. Pengolahan tanaman pisang masih menyisahkan kulit, batang, bonggol, dan jantung sebagai limbah yang masih kurang dimanfaatkan oleh masyarakat. Padahal limbah-limbah tersebut masih bisa diolah atau dimanfaatkan sebagai bahan pangan yang kaya akan manfaat bagi kesehatan tubuh. Buah pisang dengan nilai kandungan gizi yang sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh sehingga berpotensi besar untuk diolah menjadi berbagai olahan produk pangan agar mempunyai nilai jual atau ekonomi yang lebih tinggi. Pengolahan buah pisang di kampung Jolosutro masih sangat terbatas sehingga perlu diadakan palatihan yang lebih maksimal lagi agar masyarakat lebih kreatif dalam mengolah hasil perkebunan mereka. Dan petihan yang dilakukan bukan hanya tertuju pada pengolah buah pisang, namun ditujuan pula pada limbah hasil pengolahan buah pisang tersebut seperti pengolahan kulit pisang dan bonggol pisang untuk menjadi produk bahan pangan sehingga masyarakat kampung Jolosutro mempunyai banyak pengetahuan dan peluang usaha yang perlu dikembangkan.
Kulit buah pisang merupakan salah satu limbah yang banyak dihasilkan oleh masyarakat terutama penjual gorengan. Padahal kulit pisang berpotensi besar jika diolah menjadi produk pangan karena di dalamnya mengandung zat gizi yang sangat dibutuhkan oleh tubuh. Kandungan unsur gizi pada kulit pisang cukup lengkap seperti karbohidrat, protein, lemak, kalsium, fosfor, zat besi, vitamin B, vitamin C dan air. Unsur-unsur inilah gizi inilah yang dapat digunakan sebagai sumber energi dan antibodi bagi tubuh manusia (Munadjim, 1998 dalam Hirtamas, 2013). Kemudian Munadjim (1983) dalam Munawaroh (2015), juga mengungkapkan komposisi kulit pisang yaitu air 68,90%, karbohidrat 18,50%, lemak 2,11%, protein 0,32% dan komposisi kandungan lainnya. Dan dalam penelitian Musita (2009), menyatakan bahwa kandungan pati kulit pisang tergantung dari varietas buah pisang. Kandungan pati resisten dari pisang raja sebesar 30,66%, pisang tanduk 29,60%, pisang ambon 29,37%, pisang kepok kuning 27,70%, dan pisang kepok manado 27,21%. Dengan kandungan yang dimilki tersebut maka kulit pisang sangat cocok dikembangkan untuk produk bahan pangan seperti tepung dan produk lainnya.
Bonggol pisang merupakan bagian tanaman pisang yang kaya manfaat bagi kesehat tubuh. Pemanfaatan bonggol pisang masih sangat terbatas, Padahal bonggol pisang bisa diolah berbagai produk bahan pangan seperti tepung. Pemanfaatan bonggol pisang sebagai tepung didasarkan bahwa bonggol pisang merupakan komponen polisakarida yang tentunya bisa diolah menjadi sumber tepung baru. Bonggol pisang kaya akan serat pangan. Menurut Astawan (2004), serat kasar terbukti mampu mencegah berbagai macam penyakit, diantaranya penyakit gigi, diabetes millitus, tekanan darah tinggi, obesitas, serat meningkatkan kesehatan mikroflora usus sehingga dapat memperlancar pencernaan. Rudito et al (2010), menunjukkan karakteristik kimia pati bonggol pisang yaitu kadar air sebesar 6,69%, kadar abu 0,11%, dan kadar HCN 2,6 mg/kg. Bonggol pisang merupakan bagian bawah batang pisang yang menggembul berbentuk umbi. Menurut Rosdiana (2009), bonggol pisang memiliki komposisi yang terdiri dari 76% pati dan 20% air. Pati ini menyerupai pati tepung sagu dan tepung tapioka. Kandungan bonggol pisang yang cukup tinggi memungkinkan untuk dijadikan sebagai alternatif bahan pangan yang cukup potensial (Saragih, 2013). Sehingga, pembuatan tepung bonggol pisang bisa dimanfaatkan sebagai pembutan cookies dan berbagai produk pangan lainnya.
Pontensi selanjutanya yang perlu dikembangkan di kampung Jolosutro yaitu ikan hasil tangkapan nelayan. Hal ini perlu dilakukan agar ikan hasil tangkapan nelayan mempunyai nilai jual yang lebih tinggi. Sebab melihat permasalahan yang dialami oleh nelayan kampung Jolosutro, dimana nelayan sering menghadapi fluktuasi harga ikan dari konsumen. Terlebih ketika ikan hasil tangkapan dibelih oleh tengkulak. Jika ikan yang didapat melimpah maka harga ikan turun, tetapi apabila ikan yang didapat sedikit maka harga ikan akan naik. Kemudian hal ini juga sering dialami oleh peternak undang yang bekerja di tambak. Berbeda dengan gurita, apabila gurita yang didapat nelayan lebih banyak maka harganya juga ikut semakin mahal. Sehingga, permainan harga seperti ini justru nelayanlah dan peternak undangan yang dirugikan. Kemudian terlibih lagi nelayan Jolostro tergolong nelayan kecil yang menggunakan peralatan melaut yang biasa dibandingkan nelayan besar. Oleh karena itu, pelatihan pengolahan ikan, gurita, dan undang menjadi produk pangan yang mempunyai nilai jual lebih tinggi perlu dilakukan agar meningkatkan perekonomian nelayan dan peternak undang. Ikan hasil tangkapan nelayan kampung Jolostro yang sering didapat berupa ikan tongkol, ikan tenggiri dan ikan kakap. Ikan tongkol merupakan salah satu ikan yang mempunyai pontensi besar untuk dikembangkan menjadi produk pangan karena kandungang gizinya yang sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Begitu pula dengan ikan tenggiri dan ikan kakap. Ikan-ikan tersebut untuk dapat meningkatkan perekonomian masyarakat kampung Jolosutro terutama nelannya, bisa dikembangkan atau diolah menjadi abon ikan khas kampung Jolosutro. Sehingga dapat meningkatkan nilai jual ikan-ikan tersebut sekaligus menambang peluang usaha bagi masyarakat kampung Jolosutro.
Berdasarakan pontensi sumber daya alam yang dimiliki oleh kampung Jolosutro baik hasil pertanian maupun hasil laut. Maka, inovasi atau gagasan maupun ide yang tepat diterapakan di kampung Jolosutro untuk meningkatkan perekonomian masyarakat maupun kampung tersebut adalah pembentukkan KP2. Apa itu KP2?, KP2 merupakan singkatan dari Kelompok Produk Pangan. Pembentukkan Kelompok Produk Pangan (KP2) bertujuan untuk mengolah sumber daya alam yang dimiliki kampung Jolosutro menjadi produk pangan yang mempunyai nilai jual tinggi. Adapun yang menjadi pemeran dalam Kelompok Produk Pangan (KP2) ini merupakan masyarakat kampung Jolosutro. Langkah awal yang akan ditempu dalam pembentukkan Kelompok Produk Pangan (KP2) ini yaitu melakukan diskusi dengan pemerintah setempat dan toko masyarakat kampung Jolosutro. Tujuan diskusi dilakukan untuk mengetahui tanggapan pemerintah dan toko masyarakat kampung Jolosutro terhadap pembentukkan Kelompok Produk Pangan (KP2). Karena jika pembentukkan Kelompok Produk Pangan (KP2) ditanggapi dengan baik oleh pemerintah dan toko masyarakat kampung Jolosutro, maka gagasan atau ide ini akan berjalan dengan baik untuk direalisasikan bahkan pemerintah akan meluncurkana dana untuk biaya perlengkapan yang dibutuhkan dalam pembuatan produk pangan serta dapat menghibahkan tanah milik pemerintah untuk tempat pembangunan rumah atau bangunan Kelompok Produk Pangan (KP2).
Langkah selanjutnya yang akan dilakukan yaitu pembentukkan Kelompok Produk Pangan (KP2) dengan dihadiri oleh pemerintah setempat, toko masyarkat, pemudah kampung Jolosutro dan para kepala keluarga masyarakat Kampung Jolosutro. Setelah pembetukkan Kelompok Produk Pangan (KP2) selesai, maka selanjutnya dilakukan pembinaan atau pelatihan secara maksimal dalam proses manajemt, pembuatan produk pangan hingga pemasaran atau distribu dengan manfaatkan teknologi saat ini agar usaha yang dibangun dapat sukses. Manfaat yang akan didapatkan masyarakat terhadap pembentukan Kelompok Produk Pangan (KP2) ini antara lain masyarakat dapat bekerjasama dalam membangun usaha, meningkatkan silaturahmi masyarakat kampung Jolosutro, mempunyai pekerjaan tetap ataupun penghasilan tetap, dapat mengetahui berbagai macam pengolahan atau pembuatan produk pangan, dan menikmati produk pangan hasil produksi kampung sendiri.
Keunggulan dari pembentukkan Kelompok Produk Pangan (KP2) ini antara lain dapat membuka peluang usaha terhadap masyarakat kampung Jolosutro, meningkatkan perekonomian masyarakat atau kampung Jolosutro itu sendiri, mengurangi pengangguran dalam masyarakat, menfaatkan sumber daya alam yang ada dalam kampung Jolosutro menjadi produk pangan sehingga mempunyai nilai jual yang lebih tinggi, dan menjaga ketahanan pangan kampung Jolosutro. Kemudian jika kelompok usaha ini terus dipertahankan, maka di masa yang akan datang kampung Jolosutro menjadi salah satu kampung yang mempunyai industri produk pangan sehingga pada akhirnya kampung Jolosutro akan menjadi kampung yang lebih sejahterah dan menjadi salah satu ujung tombak perekonomian nasional maupun internasional serta dapat mewujudkan ketahanan pangan 2045.
Jadi, pembentukkan Kelompok Produk Pangan (KP2) merupakan ide atau gagasan yang tepat untuk direalisasikan di kampung Jolosutro karena dapat menfaatkan sumber daya alam yang ada menjadi produk pangan yang mempunyai nilai jual yang lebih tinggi. Sehingga, dapat meningkatkan perekonomian masyarakat maupun pendapatan Desa atau kampung Jolosutro, mengurangi pengangguran dalam masyarakat, membuka peluang usaha bagi masyarakat kampung Jolosutro, menjadikan masyarakat lebih mandiri dan menjadikan masyarakat mempunyai pekerjaan yang tetap. Dan pada akhirnya kampung Jolosutro lebih sejahtera dan menjadi salah satu ujung tombak perekonomian nasional maupun internasional serta dapat mewujudkan ketahanan pangan 2045.

DAFTAR PUSTAKA
Hirtamas T.P. 2013. Mutu Fisik Kadar Pati Tepung dari Limbah Kulit Pisang Candi (Musa paradisiaca) [KTI]. Malang (ID). Program D III Bidang Analisis Farmasi dan Makanan, Putra Indonesia Malang.
Saragih B. 2013. Analisis Mutu Tepung Bonggol Pisang dari Berbagai Varietas dan Umur Panen yang Berbeda. Jurnal TIBBS Teknologi Industri Boga dan Busana, 9 (1): 22-29.
Munawaroh A. 2015. Pemanfaatan Tepung Kulit Pisang (Musa paradisiaca) dengan Variasi Penambahan Gliserol sebagai Bahan Alternatif Pembuatan Bioplastik Ramah Lingkungan [Naskah Publikasi]. Surakarta (ID). Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Risalah Cinta Untukmu

"Risalah Cinta Untukmu" La Remba Garuda (Mahasiswa) Hei kamu...! Aku insan lemah, serba salah, serba kurang  d...